
Penemuan Makam Pejabat Mesir Kuno di Dra Abu el-Naga
Para arkeolog Mesir kembali menghadirkan keajaiban sejarah yang memukau dunia. Di kawasan Dra Abu el-Naga, salah satu nekropolis kuno di tepi barat Luxor, mereka menemukan tiga makam pejabat penting Mesir kuno yang telah terkubur selama lebih dari tiga milenium. Setiap makam membawa "suara" masa lalu melalui inskripsi yang masih terukir jelas di dindingnya — kisah tentang kekuasaan, agama, dan kehidupan sehari-hari di masa kejayaan Mesir.
Tim arkeolog yang dipimpin oleh Dr. Mohamed Ismail Khaled, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Purbakala Mesir, berhasil mengidentifikasi para pemilik makam melalui ukiran gelar dan nama pada dinding serta ambang pintu. Mereka adalah Amun-em-Ipet dari periode Ramesside, serta dua pejabat dari Dinasti ke-18, yaitu Baki dan seorang tokoh yang hanya disebut dengan inisial “S”.
Masing-masing nama itu bukan sekadar identitas — melainkan cerminan dari sistem pemerintahan dan sosial yang kompleks di masa Mesir Kuno.
Siapa Mereka?
Amun-em-Ipet: Pelayan Dewa Amun
Amun-em-Ipet diketahui bekerja di kuil atau perkebunan Amun pada periode Ramesside (sekitar abad ke-13 SM). Meski makamnya rusak, fragmen yang tersisa memperlihatkan adegan persembahan dan perjamuan suci — bagian dari ritual pemakaman khas bangsawan Mesir.
Baki: Pengawas Lumbung Gandum
Baki menjabat sebagai pengawas silo gandum pada masa Dinasti ke-18. Jabatan ini sangat penting karena berhubungan langsung dengan logistik, perpajakan, dan penyediaan makanan untuk kuil. Inskripsi di kapelnya tidak hanya mengungkap nama dan jabatan, tetapi juga membantu para arkeolog menelusuri gaya arsitektur dan seni lukis masa itu.
“S”: Juru Tulis dan Wali Oase
Tokoh ketiga, dikenal sebagai “S”, memiliki jabatan ganda yang luar biasa: juru tulis, pengawas Kuil Amun di wilayah oase, sekaligus wali kota oase utara. Posisi ini menggambarkan bagaimana birokrasi Mesir kuno telah menjangkau daerah-daerah terpencil jauh dari Sungai Nil.
Mengintip Periode Kejayaan Mesir
Ketiga makam ini berasal dari era Kerajaan Baru (New Kingdom, 1550–1070 SM) — masa ketika pemerintahan pusat kuat, pembangunan besar-besaran dilakukan, dan kekuasaan Mesir mencapai puncaknya. Kawasan Dra Abu el-Naga, tempat makam-makam ini ditemukan, merupakan bagian dari kompleks pemakaman Thebes yang berhubungan erat dengan Kuil Karnak dan Kuil Luxor di seberang sungai.
Para pejabat seperti Amun-em-Ipet, Baki, dan “S” bukanlah raja, namun makam mereka meniru gaya kerajaan dalam skala yang lebih kecil. Melalui gelar dan ukiran di dinding, para arkeolog kini bisa memetakan jejaring sosial dan politik yang menopang kekuasaan Mesir kuno.
Mengapa Gelar dan Ukiran Itu Penting?
Setiap ukiran bukan sekadar hiasan. Ia adalah dokumen administratif yang menjelaskan siapa yang mencatat hasil panen, siapa yang mengatur logistik, dan siapa yang memimpin peribadatan.
Baki, sang pengawas silo, memegang peran penting dalam sistem ekonomi dan distribusi gandum.
“S”, dengan jabatan ganda sebagai juru tulis dan wali oase, menunjukkan bagaimana kekuasaan negara meluas hingga ke rute padang pasir.
Jabatan dan kekayaan saling terkait. Para pejabat ini memiliki cukup pengaruh dan sumber daya untuk membangun kapel berhias lukisan, ruang pemujaan, dan perlengkapan makam mewah — semua demi memastikan perjalanan mereka di alam baka.
Arsitektur dan Rancangan Makam
Setiap makam memiliki struktur unik:
- Makam Amun-em-Ipet: Dimulai dari halaman kecil menuju ruang persegi dengan relung di ujungnya. Dinding baratnya sempat ditembus untuk perluasan.
- Makam Baki: Menampilkan desain lebih kompleks: koridor panjang, halaman kedua, aula melintang, hingga ruang pemakaman yang belum selesai.
- Makam “S”: Memiliki halaman dengan sumur dan ruang utama yang dibiarkan tak selesai — seolah pekerjaannya terhenti tiba-tiba.
Fragmen Seni dan Simbol Kehidupan Setelah Mati
Meski banyak bagian rusak, lukisan persembahan, arak-arakan, dan perjamuan di makam Amun-em-Ipet masih terlihat. Adegan ini melambangkan ritual penghormatan kepada arwah yang dilakukan oleh keluarga pada hari-hari suci.
Selain itu, ditemukan juga patung kecil shabti — figur pekerja yang dipercaya akan menggantikan si pemilik makam untuk bekerja di akhirat. Figur-figur ini membawa cangkul dan karung gandum, sesuai dengan kutipan dari Kitab Kematian Mesir Kuno (Book of the Dead).
Proses Penemuan dan Analisis
Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menegaskan bahwa penemuan ini sepenuhnya dilakukan oleh tim arkeolog Mesir, menandai meningkatnya kemampuan lokal dalam eksplorasi ilmiah. Temuan ini juga menunjukkan bahwa Mesir masih memiliki banyak misteri bersejarah yang belum terungkap — dan terus memikat perhatian dunia.
Saat ini, tim sedang melakukan pembersihan, dokumentasi detail, dan analisis inskripsi sebelum diterbitkan dalam laporan ilmiah lengkap. Sebagian artefak nantinya akan dipamerkan di Grand Egyptian Museum, yang menampilkan lebih dari 100.000 artefak dari seluruh Mesir kuno.
Para peneliti juga akan menuntaskan penggalian, konservasi, dan perbandingan dengan temuan sebelumnya di lokasi yang sama. Bukti menunjukkan bahwa banyak makam di kawasan ini telah dibuka kembali dan diubah berabad-abad setelah pembuatannya, menjelaskan mengapa sebagian dekorasi hilang atau rusak.
Setelah semua proses selesai, tim akan merilis laporan komprehensif tentang arsitektur, inskripsi, dan perlengkapan pemakaman ketiga tokoh tersebut. Hasil ini akan menambah kepingan baru dalam mozaik sejarah Mesir — dan memperkaya pemahaman kita tentang kehidupan di balik keabadian.